MARKAS BARU

MARKAS BARU
Markas Baru
Tampilkan postingan dengan label #JuliNgeblog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #JuliNgeblog. Tampilkan semua postingan
Hari ini ke kantor, ke toko kue, ke kost, ke bioskop, ke restoran burger
Hari ini senang, capek, bahagia, sedih, senang, sabar
Hari ini senyum, merengut, tertawa, membiarkan, menikmati, menghembuskan nafas panjang
Hari ini sesuatu yang sudah biasa terjadi
Dan akan selalu bisa dilalui...
Apakah film favoritmu sepanjang masa? Ini saya bikin versi saya. Saya mengklasifikasikan ke drama dulu aja masalahnya kalau digabung semua genre itu ya jadi banyak banget. Saya bikin 10 film dalam daftar ini, yah walaupun tentu saja film bagus sebenarnya ya banyak banget. Ini gak ngurut berdasarkan rangking loh, sedapatnya aja.

Shawsank Redemption
Kalau ada yang nanya pertanyaan apakah film favorit, dengan spontan saya akan menjawab film ini. Film tentang pelarian narapidana yang merasa dirinya tidak bersalah dan dilakukan dengan cerdas. Buat saya penyuka film drama, ini masterpiece-nya. #halah. Pemerannya yang dibuat smart dan dialog-dialog yang cerdas bikin susah untuk melupakan film ini, belum lagi taktik dan strategi yang disusunnya bikin kita mendecak kagum.

Scarface
Eh, film ini kategori film drama kan? Walaupun banyak adegan tembak-tembak mafianya tapi intinya sih menampilkan perjalan hidup mafia itu dan juga lengkap dengan percintaannya. Alpacino selalu sukses menampilkan film seperti ini.

Eternal Sunshine of the Spotless Mind
Kalau kamu sedang patah hati dan butuh pembenaran-pembenaran dan eksepsi atas apa yang kamu lakukan, sangat cocok nonton film ini. Hehehe. Sebenarnya ini tergolong sci-fi tapi aslinya adalah cerita drama. Filmnya dibuat dengan plot maju-mundur, ada twistnya, walaupun basicnya ya percintaan lagi.

Cast Away
Film yang banyak menyita emosi ya ini, kisah seseorang yang diperankan oleh Tom Hanks yang terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni beberapa tahun. Berteman bola basket. Aktingnya sangat meyakinkan di sini. Ah, Tom Hanks gak ada duanya.

The Pianist
Film inilah yang bikin saya jatuh cinta sama Adrien Brody. Aktingnya menyentuh, sifatnya yang canggung dan tertutup dan kisah yang memang menarik. Menceritakan seorang pianist yahudi yang bertahan hidup di jaman perang Nazi. Saya selalu mengasih poin yang lebih pada film-film dengan latar belakang perang dunia ke 2, sepertinya setiap cerita bisa dieksplor maksimal.

The Departed
Film dengan aktor-aktor watak semua, Matt Damon, Jack Nicholson, Leo dicaprio dan Mark Walbergh itu adalah deretan yang menjanjikan. Cerita tantang pahlawan dan penjahat yang tentu saja seru dibagian intrik-intriknya, dan endingnya yang membuat terpana.

King Speech
Kalau ada film drama yang bari-baru ini yang bikin saya "sumringah" menontonnya adalah King Speech. Film ini bikin saya ingin berseru "WAAAH" sesudah menontonnya. Saya sih gak ngerti apa orang merasakan hal yang sama, tapi film ini kaya sekali, tentu saja menurut saya, menurut kamu?

Beautiful Mind
Hail Russel Crowe! Memainkan seorang jenius matematika tapi sakit schizophenia (ah susah beud namanya), terpana melihat kejeniusannya membuat saya lupa itu cuma filem oiiii... Tapi om Russel iki yo pas banget meraninnya. Eh bentar, saya lupa detailnya *ditoyor*, tapi film ini ya gitulah.

Schindler's List
Berlatar belakang perang dunia ke 2 lagi, ini film apik tenan. Cerita tentang seorang Pengusaha Jerman yang menolong orang-orang sebisa yang dia mampu untuk bisa selamat dari holocoust. Modusnya sih untuk dipekerjakan di pabriknya, tapi ya ujung-ujungnya bakal diselamatin. Istilah e, kalau kamu masuk dalam list nya Schindler nyawamu sedikit tertolong lah setengahnya #halah.

500 Days of Summer
Hohoho, satu-satunya drama romantis dalam daftar ini. Tapi saya sangat suka film ini. Ceritanya bikin pikiran jadi lebih realistis sekaligus melankolis. Dan ceritanya memang manis penuh quote-quote jleb. Dan ada Joseph G Levitt yang cute itu. (mulai deh)

Yah, itu sepuluh film terbaik versi saya. Tapi saya yakin pasti ada yang terlewat, maklum pelupa. Besok-besok bikin daftar film dengan genre berbeda ah.
Baaaaay.....
Eh pada tau gak kalau di Mercure Hotel daerah Simatupang itu ada paket Ramadhan untuk metting dan buka puasanya, dan buat saya yang sudah merasakan menunya ngasih tau nih ya kalau gak bakal rugi deh berbuka di sini. Menunya enak-enaaak. 


Tajilnya lengkap, ada es buah, ada korma, ada teh, ada penganan kecil model tradisional atau modern. Eh iya, ini foto-foto waktu kemaren saya diundang buat berbuka bersama di sana.

Eh ketemu asinan di main coursenya. Asin, pedes dan asemnya berasa banget. saya makan ini ya abis ngisi perut dulu lah, takut lambungnya teriak-teriak. Tapi ini favorit saya.
Makanan berbukanya buat saya cukup ini, Sop Iga dengan daging yang empuk dan Sepiring Brokoli plus mie plus ikan yang mbuh diapain :p
Abis makan ngemil gado-gado kali ya...
Ini pencuci mulutnya. Puding-puding yang enak dan cantik. Aduh fotonya rada gelap. 
Dan Yipiiiii! Ternyata nyediain kopi. Alhamdulillah banget. Nikmat berbuka di Mercure Hotel mana yang kan kamu dustai... 
Dan ketemu Embun.. Hai embun! 
Terimakasih Mercure Hotel Simatupang untuk ngundang saya lagi dan bikin saya begah susah gerak. Semoga semakin laku, hehe. 

Sudah memasuki sepuluh hari kedua di bulan ramadhan.
Aku masih saja tidur cepat dan bangun cepat.
Aku masih saja tidak bisa menaikkan intensitas mengaji
Aku masih tetap bolak-balik pulang ke kalibata
Aku masih tetap tak bisa bantu memasak untuk berbuka
Aku masih saja belum beli apa-apa buat lebaran
Aku masih berharap
Aku mengantuk
Aku ingin tidur
Saya suka minum air putih, eh dan juga kopi tentunya. Menyebabkan saya suka dengan tumbler dan saya suka mencari alasan untuk membelinya. hehe. Butuh yang gede, butuh yang bisa nyimpen panas lama, butuh yang warnanya kerenan dikit, ini alasan doang sih, Iya. Tapi bagi saya memang penting minum air putih di tempat yang gede karna pakai gelas kurang nampol sebab jarang gelas yang gede banget ukurannya. Untuk minum di kantor saya pakai yang ukurannya besaaar, dan karna ruangannya ada 2 jadi tumbler seukuran besar itu untuk kantor juga ada 2. 
tumbler kantor ruangan 1 ukuran 1L
tumbler kantor ruangan 2 ukuran 900ml
Untuk di jalan saya juga bawa tumbler ukuran gede juga, kapasitas 600ml. kebetulan dapat dari goodiebag #mentalgratisan. sebelumnya saya bawa yang lebih kecil kalau buat di jalan. Tapinya suka kehabisan dan mintak minuman teman :))
buat di jalan
Ini yang ukuran kecil buat di jalan itu, pemikiran lainnya juga karna ini cocok buat kopi. Kadang saya belum sempat ngopi tapi kepepet waktu karena buru-buru jadi kopi panas musti dibawa aja. Kecil dan bentuknya gelas. kalau bentuk tabung agak terganggu sama ampas kalau buat minum kopi.
ukurannya paling cuma 300ml
Juga kadang saya pakai yang ini buat di jalan. Karena tebal jadi cocok untuk kopi biar lamaan panasnya. Tapi sebenarnya agak kurang sreg karena penampangnya gede padahal muatannya sedikit. Saya suka ini karenaaa...warnanya #teteup. Oiya, ini sebenarnya beli gara-gara pernah ikut kursus di kantor, trus butuh tumbler khusus biar kopinya bisa dibawa masuk ke kelas supaya gak ngatuk. #IcitOrangYangBerpikirPanjang #pret
Milanisti
Punya lagi tumbler-tumbler ini yang sering saya pakai di kos. Karena lebih enak minum di tumber sambil main laptop, baca atau nonton. dan bentuknya lucu-lucu.

ada sponsornya :p

berumur paling tua

Ini beli karena lucu aja, satu set sama tempat makan. Belum pernah dipakai sama sekali. ah ntar buat anak saya saja. *simpan di lemari.

paket untuk anak-anak
Sesudah ini gak boleh beli tumbler lagi, gak boleh!


Update postingan pamer nan tidak guna sama sekali. Karena lagi gak ada bahan #JuliNgeblog padahal hari udah mau jam 24. Hahaha, penting!
Siapa yang suka bercerita dengan bangga sekaligus miris tentang dirinya "disebut" sebagai pemberontak? Ya itulah kakekku, kakaknya nenek yang paling tua. Ketika aku ngobrol dengannya, yang biasanya berawal dari ngobrol tentang apapun, pasti ujung-ujungnya akan sampai juga ke kisahnya waktu muda jaman PRRI. 
Syarifudin Prawiranegara. bukan, bukan dia kakekku >_<
Bercerita tentang adik-adiknya yang pergi masuk hutan untuk "berperang" dan dia yang tetap tinggal di rumah sehingga mengakibatkan jadi bulan-bulanan tentara pusat yang waktu itu disebut juga "Tentara Sukarno". Entah mengapa aku selalu ikut semangat ketika mendengar ceritanya, dan karena melihat antusiasku dia menjadi semakin ingin melanjutkan ceritanya. 

Ditambah lagi keluarga kami yang katanya adalah keluarga Masyumi, menambah imbas penderitaannya sebagai keluarga pemberontak. Istilahnya adalah "tawanan kampung", gerak geriknya diawasi, rumah dikasih tanda silang gede di pintunya dan di penjuru rumah dikasih lampu sorot yang mengarah ke tengah menerangi rumah untuk memantau siapa yang datang dan pergi dari rumah. 

Pekerjaan kakek sebenarnya adalah sebagai guru pegawai negeri, di awal penempatan di Gorontalo selama 3 tahun sering membuatnya sakit-sakitan, mungkin karena tidak cocok udara panas katanya, dan juga karena di sana makanan full kolesterol sehingga kesehatannya ngedrop. Akhirnya dia pulang sebentar ke kampung dan berniat mengurus pindah kerja. Permintaan itu akhirnya diloloskan dan dia mendapat surat kepindahan ke Magetan. Padahal belum berangkat waktu itu, namun daerah Minang sudah dikepung oleh tentara pusat di lautan. Kemudian sesudah itu terjadi penyerangan sehingga mahasiswa-mahasiswa dan pemuda "pejuang" berlarian ke hutan. Pergi berperang, itulah istilahnya jaman dulu. 

Karena itu jugalah kakek terpaksa harus ke sawah lagi, beralih profesi yang semula dari guru. Dia tidak bisa mendaftarkan kepegawaiannya karena dicap pemberontak. Semua surat-suratnya tidak diakui. Kesalahan dia di awal juga sih, ketika pernah ada woro-woro semua pegawai disuruh mendaftar ulang dia tak mau melakukannya, gara-gara idealisme terhadap PRRI, hihihi. Walaupun sesudah beberapa lama surat-surat itu bisa diakui kembali dan dia kembali berprofesi menjadi guru, namun itu membutuhkan perjuangan yang cukup panjang. Bahkan  harus sampai ke Medan dan Jakarta. 

Dia juga selalu menceritakan satu kejadian genting ketika rumah kami dikepung tentara yang mendapat kabar  burung bahwa adik kakek yg pejuang digosipkan sedang pulang ke rumah, keluar dari hutan. Ketika kakek mengintip keluar rumah ternyata benar, tentara pusat sudah berada di sekeliling rumah untuk menyergap. Adiknya yang waktu itu memang pulang dengan menyelinap masuk rumah malam-malam bersama beberapa temannya bersenjata lengkap (wuiih keren) akhirnya melarikan diri. Dengan krukupan sarung merayap di sisi tebing yang ditumbuhi rimbunan pohon bambu yang ada di belakang rumah, untuk mencari tempat sembunyi. Alhamdulillah selamat. Karena kata kakek kalau kedapatan seperti itu mah biasanya sudah langsung tembak di tempat aja, serem gak sih... *bergidik*.

Itulah 3,5 tahun yang selalu ingat dan sering diceritakan kakek. Diceritakan dengan sedih karena dia selalu teringat susahnya hidup jaman itu tapi sekaligus bangganya dengan nilai perjuangan yang dia yakini. Makanya saya sangat memaklumi ketidaksukaan dia terhadap Sukarno dan..yah partai yang sedang naik daun waktu itu. Belum lagi cerita lain mengiringi kehidupan sebagai "keluarga pemberontak" yang juga dialami oleh anggota keluarga yang lain. Ah...masa itu sesuatu sekali ya... 

Sabar ya kek.. *puk puk*
Kalau kamu pengen kuliah lagi, pengennya kuliah apa?
Ketika saya lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan, saya selalu berniat sekolah lagi. Waktu itu kuliah yang ingin saya lanjutkan pengennya gak jauh-jauh dari Teknik Sipil, lanjutan kuliah S1. Terutamanya mau ngambil keahlian Struktur yang menurut saya saya minati. Saya sih gak pinter-pinter amat di kuliah, lulus bersama kebanyakan teman-teman seangkatan lainnya. Tapi ya tetap saja saya menggemari ilmu pertukangan ini, walaupun ntar barangkali ada yang pengen punya rumah trus saya desainkan, mungkin bakal jadi deg-degan ya, hahaha.
Sayangnya saya bekerja di kantor yang gak ada hubungannya sama konstruksi, dan ditempatkan juga sama sekali gak ada dekat-dekatnya dengan ilmu tukang ini tapi malah dikasih kerja di unit kerja Perencanaan, yang gara-gara itu walhasil kemungkinannya akan kecil sekali kantor merestui saya kuliah di jurusan teknik sipil ini. Jadi kalau mau kuliah, BAYAL CENDILIK!
foto dipinjam di sini
Kemudian saya meminati psikolog, sok gaya-gayaan suka baca hal yang berkenaan dengan prilaku orang terus merasa minat juga dengan bidang itu. Padahal barangkali gak bakal kuat juga ngikutin kuliahnya ya, gak ngerti juga sih materi kuliahnya apa aja. Tapi tetap aja kuliah psikologi ini pernah jadi opsi kedua saya sesudah Teknik Sipil. Walaupun ini tetap gak bakal direstui kantor toh, jurusan itu buat apaaaa cobaaaak di kantor ngurusin hujan ini.

Yang paling memungkinkan untuk kuliah bisa dibiayai kantor itu adalah kuliah bidang Perencanaan, dan dari sekian banyak bidang perencanaan tentu saja saya minatnya ke Planologi atau tata ruang, yang lagi-lagi...itu gak ada hubungannya sama kerjaan kantor!! Tapi ya piye, saya suka ilmu tata ruang, itu lah ilmu perencanaan yang paling dekat sama jurusan teknik sipil.

Namun beberapa waktu belakangan ini saya ternyata dikasih kursus oleh kantor tentang ilmu-ilmu Perencanaan mulai dari dasar, yang maksudnya untuk mendukung kerjaan-kerjaan kantor (kerjaan apa? ngenet?). Meningkatkan human resources gitu ceritanya (uhuk). Di sini saya baru ngeh ternyata Ilmu perencanaan secara keseluruhan memang menarik. Tidak hanya sebatas perencanaan tata ruang saja tapi mulai dari teori dasarnya, langkah-langkah penyusunannya termasuk ilmu kebijakan publik untuk mendukungnya. Wah, malah minat deh kuliah di bidang "perencanaan apa saja", perencanaan pembangunan, perencanaan ekonomi atau sosial, pokoknya apa aja deh, gak harus tata ruang. Malah kalau ada kesempatan ambil kebijakan publik juga mau.

Yah, namanya juga angan-angan. Dituliskan dulu lah, dicapainya kapan-kapan :D
Jadi waktu itu saya ingin pergi ke Jogja, ceritanya jalan-jalan piyambakan galau sendirian. Saya menumpang Bus angkutan umum waktu itu karena kebetulan saya beli tiketnya teman yang tidak jadi berangkat.  Akhirnya dengan modal nekat karena gak biasa naik bus tapi biasanya naik kereta, sayapun berangkat dari pool bus-nya dengan hati riang gembira.
Dapat di seat yang dua sebelahan dengan seorang bapak-bapak, yang alhamdulillah sering tidur daripada terbangun, mungkin karena kecapekan. Jadinya saya bisa menikmati pemandangan sendiri. Yah walaupun sekali-sekali dia bangun dan mengajak saya ngobrol, biasalah tentang keluarga, anaknya yang katanya lagi sekolah di pesantren di daerah Jawa Timur.

Menyenangkan sekali perjalanannya. Berapa kali saya mampir waktu itu buat makan? saya lupa. Tapi, jeng jeng jeng...saya tau dengan sudut mata ada seseorang yang melihat saya terus dari awal perjalanan. Dia duduk bangku seberang saya di arah jam 8. Dia juga memperhatikan saya sendiri ketika berhenti makan dan memilih duduk di meja sendirian. Karna saya tipikal gak mau diganggu, ya cuek aja.

Ketika hampir sampai Jogja saya ketiduran, saya kaget ternyata bapak-bapak yang sepanjang perjalanan tertidur itu ternyata tidak ada lagi di sebelah saya. Adanya orang yang daritadi melihat-lihat itu. Dia memanggil-manggil untuk membangunkan, katanya udah mau sampai Jogja. Karena saya dibangunkan sayapun mengucap terimakasih. Dan akhirnya dia mengajak ngobrol, menyebutkan namanya, asalnya darimana daaaan lain-lain, trus dia juga bertanya saya ke Jogja ngapain, nginap dimana daaan lain-lain juga. Saya tentu menanggapi dengan baik, lhawong saya emang dasar orangnya ramah (pret). Sampai ujung-ujungnya dia berkata "Kamu pakai handphone android ya, saya ini baru pakai. Bisa dong kapan-kapan saya tanya-tanya gitu", trus sayapun menjawab "iya, boleh-boleh aja".

Dia meminta nomor telpon, dikasih dong. Nongollah namanya di wasap. Dan akhirnya obrolanpun terhenti karena saya mau ke Malioboro dan dia ke rumah temannya katanya. Hidup ceria dengan cerita perjalanan di Jogja sebagaimana yang saya tulis di sini --> http://www.aliendibumi.com/2012/07/ke-jogjakarta.html (promosi postingan). Yah walaupun sekali-dua kali dia mengirim chatingan tapi kegembiraan jogja terus berjalan.

Sampai akhirnya saya balik ke Jakarta, kembali dengan rutinitas. Tiba-tiba whatsapp nya datang lagi dengan menagih janji untuk bisa ditanya-tanyain soal android. Oke tuips, ternyata ini belum kelar. Namun kemudian saya setujui dan bertanya dimanakah dia ingin bertemu.
Dia menjawab "saya tinggal di Cikini, ke Kost saya saja ya, habis itu kalau mau kemana boleh"
HOKYAAA!
Akhirnya saya jawab "Aduh, Hari ini gak bisa. Saya lagi disuruh ke rumah saudara, Maaf ya...", sesudah itu mari abaikan semua telponnya dan delete contactnya.

Dan Cerita Selesai.
gambar dipinjam di sini
Hari ini hujan. Seharian hujan.
Aku tak bisa mendefenisikan rasa ku terhadap hujan secara jelas
Kadang aku sayang, tapi ketika aku mau keluar rumah aku merengut melihatnya.
Tapi ketika aku sedang ingin duduk-duduk saja di rumah, aku senang melihatnya, senang mendengarkan suaranya.
Seolah-olah bisa menghilangkan suara masalah.
Seolah-olah dingin hawanya bisa mendinginkan hati yang panas
Apalagi ketika mau tidur begini, suaranya lullaby.
Menyenangkan...
Tapi kadang juga tidak...
Kutu buku yang saya kagumi itu adalah Bung Hatta, buku adalah hidupnya selain dedikasinya buat negara *ciyum2 foto bung Hatta*. Tapi dalam versi nyata seorang kutu buku yang saya kenal adalah kakek saya, ayahnya ibu. Walaupun saya tidak mengenalnya sampai dewasa (ceilah), tapi saya cukup mengenangnya dengan baik, terutama tentang betapa freaknya dia terhadap buku, dan oiya juga majalah ternyata. Betapa dulu sering saya mencuri masuk cuma untuk berada di ruangan tempat dia membaca dan menyimpan buku-bukunya. Sampai akhirnya dia sudah tiada kira-kira saya sekolah dasar saya masih sering diam-diam masuk ke ruang bukunya, kadang cuma untuk membalik-balik bukunya melihat-lihat gambar.

Buku apa saja yang dia baca? Beragam. Dia menggemari banyak hal, novel, buku seri pengetahuan, buku agama, sejarah, jilidan majalah-majalah langganannya serta buku dan peta geografi dunia. Dan kelebihannya yang lain adalah, dia punya daya ingat yang baik. Dia suka menceritakan lagi apa yang dia ketahui dari buku-bukunya, dia suka duduk sambil mendiskusikan sesuatu dengan orang lain, kecuali mungkin sama nenek, itu sih urusan meja makan biasanya :P

Dan juga karna sayang sama cucu, dia juga punya banyak buku seri pengetahuan untuk anak-anak dan tentu saja dongeng anak-anak. Dia tidak membatasi jenis bacaan dan tidak memaksakan kami membaca cuma yang serius-serius aja. Dia seperti benar-benar ingin menularkan kebiasaan membacanya itu dan beberapa orang dari cucunya memang tertular dengan itu terutama 2 kakak sepupu paling tua yang dulu suka sekali membaca, entahlah sekarang :D

Dulu waktu kecil saya tidak tau harga buku, tapi baru sekarang saya sadar kalau buku yang dia punya itu bukanlah kategori buku murah, apalagi buku untuk anak-anak itu yang penuh gambar dengan kualitas kertas yang bagus, sarat ilmu dan banyak diantaranya hardcover. Padahal kakek bukanlah tergolong punya duit banyak, dia cuma guru biasa. Tapi segitulah sayangnya dia dengan buku-buku, bersedia merogoh kantong lebih dalam untuk punya.

Dia juga posesif dengan bukunya, dia punya stempel khusus untuk buku-buku itu. Setiap buku yang dia beli distempel dulu dan diberi nomor, dan sepertinya dia punya catatan atas nomor-nomor itu walaupun saya belum pernah liat catatan itu sih. Setiap buku juga disampul dulu sebelum dibaca dan letaknya dikategorikan. Kayaknya buku yang paling penting malah diletakkan dalam rumah, bukan diruang baca tadi.

Sudah bertahun-tahun kakek tiada, rumah gadang tempat dulu tinggal bersama juga pernah terbengkalai yang saya yakin membuat koleksi buku-bukunya tidak terjaga, so sad. Beberapa bukunya juga sepertinya tak tau rimbanya, banyak yang meminjam tanpa mengembalikan (termasuk saya). Tempat yang tadi adalah ruang pustaka dan membacanya juga sudah berubah fungsi, entah bagaimana kabar buku yang ada di rak besar itu, juga di lemari-lemari lain yang tersebar dalam rumah. Sekurang-kurangnya dimakan rayap kayaknya.
Maafkan kami kakek :'(
Salah satu problematika domestik rumah-rumah di Jakarta adalah merajalelanya mencit atau tikus. Dan salah satu problematika saya adalah jika melihat ulat bergerak dan tikus dalam kondisi mati. Selain itu juga geli liat cicak, kadal, lintah, cacing (jiah banyak banget). Kalau tikus yang berlarian di pinggir jalan itu masih bisa saya tolerir.

Alkisah itu yang terjadi di rumah beberapa hari kemaren, ada tikus hampir mati yang sepertinya disebabkan nenek lagi kalap menyemprotkan baygon yang banyak ke udara sehingga sang tikus tak bisa bertahan dalam udara beracun. Dia terkapar pingsan hampir mati di ujung karpet di kamar, ciyan. Kejadiannya tengah malam, ketika saya sedang asik-asik di kamar tempat saya tidur mendengar nenek berteriak dari dalam kamarnya karena melihat makhluk berbulu amit-amit itu.

Apa yang kami lakukan? Tak berdaya. Nenek tak berdaya karna badannya tak kuat lagi buat mengambilnya dan matanya yang tidak bisa melihat persis kondisi tikusnya, dan saya yang tak berdaya karna melihatnya saja merinding blingsatan. Akhirnya kami cuma berdiri di ujung karpet satunya memikirkan kemungkinan-kemungkinan apa yang musti dilakukan. Walaupun saya sadar bahwa nenek sedang berfikir betapa cemennya saya.

Akhirnya dengan sedikit tega saya menggedor-gedor kamar om yang tentu saja sudah terlelap tidur dengan resiko menghadapi muka kusutnya sambil megangin pengki dan saya kabur ke kamar lagi.

Selanjutnya tertegun menghadapi kegagalan saya sebagai perempuan perkasa.

Drama habis.
End.
Ah, ngeblog yang bermakna sekali-sekali. (tsaaah)

Tahukah kamu dengan Makmum yang Masbuq ketika shalat? Iyak benar. ketika Makmum itu terlambat mengikuti imam dalam shalat berjamaah, itulah yang dinamakan Masbuq. Saya rasa banyak yang udah tau tentang apa yang yang harus dilakukan Makmum yang Masbuq.

Tapi alangkah terganggunya pikiran saya (heh? terganggu pikiran?) ketika sedang shalat berjamaah (biasanya di saf ibu-ibu) ada seseorang yang Masbuq dengan sebuah kasus begini : ketika itu dia tidak bisa mendapati rakaat shalat yang sama dengan imam di rakaat pertama, tapi terlambat hanya ketemu imam di rakaat ke dua atau bahkan sesudahnya, kemudian memaksakan rakaat yang sama dengan imam. Dengan cara apa? dia shalat sendiri dengan cepat agar nanti rakaatnya sama dengan imam sehingga ujung-ujungnya tetap bisa salam bersama dengan imam dan makmum lainnya. Wah itu biasanya bikin shalat saya gak bisa khusuk (nyalah-nyalahin) :p. Yang pasti sih itu bacaan shalatnya udah buru-buru kayak dikejar anjing galak aja udah. 

Saya tau bahwa orang seperti ini punya semangat yang tinggi sekali untuk bisa ikut shalat berjamaah, tapi begitulah. apa yang kita lakukan walau niatnya baik harus ada panduannya apalagi kalau sifatnya ibadah *benerin kerudung*. Sejauh ilmu yang saya tau bahwa Makmum Masbuk itu harus bisa takbir dengan baik kemudian mengikuti gerakan yang sama dengan imam ketika dia terlambat itu. Kalau imam berdiri ya makmum juga berdiri, kalau imam sujud ya makmum juga sujud, ya begitulah resiko kalau jadi makmum, harus mengikuti apa yang imam komandokan (jadikan aku makmummu mas..jadikan aku makmummu... *ditampar*). 

Bagaimana menghitung rakaatnya? Yak, untuk sebagian pendapat ulama (yang saya meyakininya) bahwa rakaat makmum itu bisa terhitung jika dia bisa ruku' sempurna bersama imam. Kemudian sisa dari rakaat yang dia tak bisa bersama imam ditambahkan belakangan dengan kata lain ketika imam mengucap salam dia berdiri untuk melanjutkan rakaat yang tersisa, begitulah kira-kira.
Sebagian pendapat lagi mengatakan bahwa rakaat itu dihitung berdasarkan Al-fatihahnya. Namun menurut saya, apapun yang diyakini terserah saja yang penting harus ada dalil dan tuntunannya. Yakan..yakan..?

Memang banyak yang sudah tau hal ini, tapi ternyata dari pengalaman saya pribadi ngeliat sendiri masih ada aja yang belum tau toh? 

Sekian, selamat Puasa :)

Sebenarnya saya orangnya #mureee, sangat gampang disenangkan dan tau apa-apa membuat hati saya sendiri senang. Karena kita yang tau diri kita sendiri, maka kita yang tau apa yang dibutuhkan untuk menceriakan harinya, ya gak?
Tapi beberapa orang iseng saya tanya "hei, menurut lo apa yang paling memungkinkan bisa menyenangkan hati gue?", maka ada yang menjawab "Kopi!", ada lagi yang jawab "Internet!", bahkan "Twitter!". Mereka tau saya banget ya? saya terhayuuu....

Namun ada seorang teman yang menjawab dengan panjang dan lengkap : "Kalau di depan lo ada internet yang kenceng, di deket tangan kiri lo ada kopi dan di layar laptop lo ada chat satu orang". Haaaa... Apalagi yang bisa melebihi itu jawabannya. :)))

Yak, utamanya adalah "chat satu orang" ini, inilah mood booster saya yang utama (lebay), yang lain bisa gagal menyenangkan saya kalau hal yang berkenaan dengan satu orang ini juga gak berlangsung kondusif (drama abis). Apalagi saya bisa liat senyum dan ngobrol dengannya langsung, cerahlah dunia.

Iya, begitulah... :)

Saya sedang membaca buku Quraish Shihab Menjawab tentang 101 soal perempuan yang wajib diketahui. Ada pertanyaan yang pas banget dengan pikiran saya ketika sekarang saya sedang lagi rajin-rajinnya mengaji, eh tau-taunya haid datang. Yah walaupun sepengetahuan saya sih tak apa-apa, tapi saya rasa kebanyakan perempuan merasa ada yang kurang saja ketika melakukannya karena merasa kurang "suci".
Mumpung ketemu dalilnya nih ya, saya blog kan saja tentang bagaimana pendapat bapak Quraish Shihab menjawab ini.
Buku dipinjam dari sini 
Dalil yang dipakai adalah :
"Janganlah Al-quran dipegang kecuali oleh yang suci " (HR. Malik melalui Amr bin Hizam). Nah pendapat berbeda-beda mengenai ini.
Pendapat Imam Malik, Syafii. -> Memegang harus dalam keadaan suci yakni berwudhu.
Pendapat Imam abu Hanifah -> bersuci adalah "dianjurkan".

Selanjutnya tentang membaca (tanpa memegang) mayoritas ulama membolehkan. Apalagi jika membaca itu udah jadi wirid. Walaupun ada juga ulama yang ketat melarang.

Demikian pendapat bapak Quraish Shihab. Kalau saya meyakini bahwa itu adalah anjuran, membaca tak apa-apa. Susah menghindarkan diri dari tidak membaca quran kan, terutama al-fatihah. Apalagi misalnya orang yang senantiasa "harus" membacanya, misalnya guru baca Al-quran, ya bisa cuti ngajar terus kalau seandainya musti gak dibolehin baca, ihik.

Tapi pak Quraish Shihab mengingatkan bahwa ini adalah kitab suci yang harus dijunjung tinggi dengan kesucian lahir bathin.

Ayo cit baca lagi biar khatam!! *pecut*
Kalau ada yang tidak tau sejarahnya, itu salah generasi tua atau generasi muda?

Alkisah, terjadilah percakapan antara saya dan nenek saya :
Nenek : Keluarga Amay (ibunya nenek) itu beradik kakak cuma berdua. Tapi adalah banyak saudara Amay yang lain yang beda ibu, Misalnya Si Anu (saya lupa namanya).
Saya : Hah? Siapa? 
Nenek : itu loh yang anaknya Si Itu (lupa lagi namanya) yang tinggal di sana.
Saya : Itu siapa lagi? ndak kenal namanya, gak pernah denger.
Nenek : Eeeeee, ini keluarga sendiri kok gak tau...gimana sih...and the bla and the bla...  (a.k.a diomelin).
Dan saya cuma bengong, kemudian lanjut pegang hp, twitteran. Lah kan itu keluarga jauh banget, berapa generasi coba itu saya musti lompatin hapalannya (ngeles).

Atau cerita lain :
Nenek : Dulu batas tanah kita di kampung gak kayak bentuk siku-siku gitu, kenapa sekarang seperti itu sih bentuknya. Aduh, kalian itu musti perhatikan itu batas-batas tanah kita biar jelas yang mana aja yang musti dijaga. 
Saya : Iya, makanya seharusnya dulu yang orang-orang tua itu ngasih tau sama kita tanah itu batasnya yang mana aja.  
(Nah loh, saling menyalahkan)

Jika ada kejadian seperti ini, siapa yang musti disalahkan? Yang tua ngerasa itu tugas yang muda buat cari tau sejarah dirinya dan keluarganya, mereka harusnya tau apa yang seharusnya mereka tau, pokoknya gitu. Yang muda juga pasang badan bahwa jika mereka gak dikasih tau ya mereka musti tau darimana, dan bahwa sejarah memang musti diturunkan, agar yang di nanti diamanatkan tau apa yang menjadi tanggung jawab mereka.

Saya sih menyadari bahwa pentingnya permasalahan turun-menurunkan kisah sejarah ini, agar membantu sesuatu terjaga sepenuhnya. Adat istiadat dan warisan turun temurun atau dalam lingkup yang lebih luas dibawa ke khazanah Bangsa Indonesia adalah sejarah peradaban bangsa (tsaelah serius) adalah sesuatu yang harus dijaga, biar bangga, biar gak kehilangan jatidiri, biar punya karakter. Tapi ya itu, dua-duanya musti proaktif. Yang muda berminat mencari tau, yang tua dengan antusias juga ngasih tau.

Untuk sejarah keluarga, sudah beberapa saat yang lalu saya mencoba merunut silsilah keluarga dari bawah sampai atas, sampai seingat orang-orang tua yang bisa saya tanya. Gak sepenuhnya gampang ternyata, kakek saya kadang musti butuh waktu mengingat beberapa orang. Itu yang bikin saya sadar bahwa ternyata ini penting sekali, bagaimana jika tidak ada kakek, mungkin beberapa nama akan bingung saya tanyakan kemana, itupun kalau saya masih bisa bertemu generasi kakek yang uda tua banget itu. Sesudah ditanya ya dicatat, diarsipkan. karna gak mungkin bisa menghapal semua. Tapi setidaknya kalau sudah dicatatkan ketika saya butuh ingin tau tinggal saya buka catatan, begitu kan.
Loh, kok malah masang foto silsilah keluarga Black? :p
Untuk masalah yang lain misalnya tanah keluarga (yang ini gak kalah penting), saya sudah tanya-tanya ke orang tua tentang apa yang seharusnya orang muda seperti saya lakukan biar warisan keluarga terjaga? Hasil diskusi dengan orang tua sih bahwa perlunya semua tanah adat itu disertifikatkan, semua. Termasuk juga kepunyaan tetangga-tetangga yang saya yakin mereka juga tidak punya. Yah tau aja deh kalau berhubungan dengan ulayat atau harta keluarga turun temurun sekecil apapun itu biasanya gak ada surat resminya. Tapi hal seserius ini memang harus melibatkan banyak hal dan orang. Nanti ah tanya-tanya lagi di rumah gimana enaknya.

Jadi ya gitu, yang penting ada dulu yang berusaha untuk melakukannya, kalau enggak ya wassalam...

Gitu deh yang saya mau tulis kali ini, ini gara-gara tadi sore ngobrol sama nenek.
Caaao....
Siapa yang sok-sok yang gak mau diremehin tapi gak pernah ingin membuktikan lebih???
Yak, Saya!!

Sesudah akhirnya saya bekerja di kantor saya sekarang ini, saya seperti mati hasrat. Tak pernah punya gairah untuk apapun. Bekerja sesuai yang disuruh aja, suruh-kerjakan-kelar-selesai-kembali ke awal, begitu saja . Karna kantor juga sepertinya tak butuh hal yang lebih dari apapun yang bisa diberikan anak buahnya. Tidak butuh aktualisasi diri. 

Kenapa tidak mengerjakan sesuatu yang serius di luar kerjaan kantor yang mungkin bisa aja lebih menarik? Nah, efek kantor sungguh menular kepada kemalasan otak saya. Iya, ini pembenaran. Tapi untungnya saya bisa happy karna punya pelarian ke banyak hal, hehehe. 
Pelarian ke banyak hal ini yang kadang membuat saya susah fokus, saya tidak bisa mengerjakan sesuatu tanpa terdistraksi apapun, membuat saya jadi pelupa. Ini pembenaran lagi, Iya. 

Satu hal yang kadang membuat saya meradang adalah ketika diremehin sama orang, ketika ada satu atau dua orang yang saya rasa meragukan kemampuan saya, saya akan langsung buktikan di hadapannya. Walaupun gak selalu sukses juga dalam masalah ini :))

Cuma satu yang bikin bergairah di kantor ini, kalau saya sedang disuruh belajar semacam disuruh training atau diklat, saya akan menerimanya dengan sumringah. Entahlah karena belajarnya atau karena berarti saya harus keluar dari kantor agak beberapa saat. 
Ini salah siapa? Kantor atau saya? Tentu saja saya, siapa lagi :p
Parah banget ya saya? Iya.


Tadi kebetulan ngobrol-ngobrol dengan salah seorang bapak-bapak di kantor yang ternyata pernah ditempatkan di daerah Sumatera Barat dan juga ikut ngobrol bersama kami teman-teman yang lain beberapa orang. Dia bercerita pengalamannya selama di sana dan tentang Bahasa Minang, inilah kesimpulan dia tentang Bahasa Minang yang coba dia terangkan ke floor (halah floor), saya mah manggut-manggut aja dong. Berikut kutipannya :
Bahasa Minang itu gampang, yang penting tau clue-clue nya. Karena kita pasti tau Bahasa Indonesia maka tinggal merubah penyebutan kata belakangnya
Kata yang di akhir berbunyi -ap dirubah menjadi -ok, misalnya Atap -> Atok, Asap -> Asok
Kata yang di akhir berbunyi -us diubah menjadi -uih, misalnya Putus -> Putuih, Kurus -> Kuruih
 Kata yang di akhir berbunyi -ung diubah menjadi -uang, misalnya Gunung -> Gunuang, Hidung -> Hiduang
Begitu...
Demikian pelajaran Bahasa Minang dari orang yang bukan minang. Gampang kan? yaiyalah belum kata-kata yang aneh :))
Jika butuh pelajaran lebih mendalam, silahkan hubungi saya sebagai orang minang tulen dengan mengklik akun-akun pribadi saya yang linknya ada di bagian bawah blog ini (modus), jangan lupa ajak ngopi-ngopi.

Selamat Puasa hari pertama dan keduaaa... :*
Saya juga senang melakukan hal seperti ini waktu kecil, berada di depan kipas angin yang sedang berputar dan meneriakkan "a" yang panjang. Aaaaaaaaaaaa.....
Entah kenapa, memyenangkan. Hal-hal konyol waktu kecil itu menyenangkan :')
Foto dipinjam di sini
Ini sudah bulan Juli dan Alhamduillah ketemu bulan Ramadhan di bulan ini dan Alhamdulillah masih diberi kesempatan ketemu bulan ini lagi. Cepat juga ya datangnya, padahal berasa baru kemaren-kemaren pulang mudik lebaran.

Setiap mau Ramadhan saya selalu deg-degan, deg-degan apakah saya bisa melewatinya dengan ibadah yang berbeda dengan bulan-bulan yang lainnya. Apakah saya bisa nambahin dengan kegiatan yang malas saya lakukan di bulan lain, terutamanya mengaji, apakah bulan ini akan full tarawihnya yang walaupun gak bisa full juga kalau lagi dapet, apakah bisa sahur dulu setiap hari, apakah bisa melewatinya dengan takzim #halah.
Untuk ramadhan, banyak yang perlu kita persiapkan, ya kan?

Diantaranya nahan nafsu pikiran. Belum apa-apa bangsa Indonesia udah dihadapi dengan pertentangan ahli tentang tanggal berapakah puasa, apakah tanggal 9 Juli sebagaimana orang yang mengikuti hisab atau tanggal 10 Juli yang berpedoman pada melihat ruqyat. Biasanya ini dianalogikan kepada pertentangan Muhammadiyah vs Pemerintah, padahal kalau saya tetap melihatnya sebagai perbedaan pada pedoman percaya kepada hisab vs melihat hilal saja. Tapi ya apa-apa kan musti ada yang di kambinghitamkan sih, walaupun kenyataannya sebagian orang sudah ada yang bersama warga Muhammadiyah berpuasa tanggal 9 Juli dengan berpedoman pada hisab. Tak bisa dipungkiri tetap saja ada yang mempermasalahkannya, padahal kan katanya perbedaan adalah rahmat..gimana sih? Santai wae lah :p

Puasa dulu, zaman dulu, gak sama seperti sekarang. Dulu pergi sekolah, nahan lapar dan haus, pulang, ngabuburit sambil bantuin nyokap masak, kelar deh. Zaman sekarang, puasa sambil buka internet, baca-baca tentang isu yang ada, liat nyinyiran orang di timeline atau di media tentang isu sara yang gampang sekali bikin orang terpancing buat adu komen dari yang penting sampai gak penting ditambah barangkali betapa sangarnya nyinyiran orang lagi lapar, lengkap deh :p Yah memang gitu sekarang ngabuburitnya, banyak sekali godaan. Mau gimana lagi, begitulah dinamika hidup sekarang, yang penting harus tetap pinter di hati dan pikiran, ya gak? ;)

Tapi buat saya pribadi, ramadhan kali ini lebih terasa damai. Karena...entahlah..pokoknya gitu. #geje
Selamat puasa ya teman-teman \0/
Mengingat hari ini #JuliNgeblog ada lombanya dan bertema yang aturan mainnya bisa dilihat di sini --> \0/, maka saya mendompleng pada tema itu walaupun tak ikut dengan lombanya. Iya, saya gak bisa ikut lombanya karena :

  1. Belum Mandi. #halah
  2. Gak bisa dandan
  3. Gak punya bahan dan peralatan dandan
  4. Gak ada yang bisa megangin kamera buat video tutorialnya (alesanmuu cit)
Tapi jadinya saya terinspirasi  aja gitu pengen nulis tentang dandan. Dandanan saya dari masa ke masa. (penting?). Ya pokoknya gitu deh. Maka dari itu, postingan ini akan banyak foto-foto saya, apasih dari dandan yang berarti tidak narsis *ditabok*. Karena ini Timeline, maka mulainya dari yg paling baru dulu. 

Inilah loh gaya berpakaian saya sekarang-sekarang ini :
Baju opsem (sekalian promosi)
Kalau lagi kerja, saya pakai seragam kantor, jadi dandanan terbatas ya gitu-gitu aja :
pakai seragam kantor
Ini dandanan saya di awal-awal saya datang di jakarta dan pertama kali menyentuh kehidupan metropolitan #pret :
ini lagi di ciwidey sih
Ini foto saya ketika semester-semester akhir kuliah. Gak jelas? yaiyalah, ngambilnya dari scanning foto yang udah dicetak. Kulitnya bisa dikatakan butek karena waktu itu kerja praktek ya musti berjemur. Maklum mahasiswa calon tukang.
lagi kerja praktek
Ini foto di pertengahan kuliah. Sepertinya ini foto lagi nongkrongin senior lagi wisuda, jadi bolehlah bajunya gaya dikit. (debatable) :
bawahannya udah pasti jeans
Ini dandanan jaman SMA, ketika masih unyu-unyunya ya.. walaupun sekarang masih unyu juga #uhuk. Oiya, saya yang di depan pakai baju biru. Baju kaos favorit saya waktu itu.
ah, fotonya terlalu kecil
Kemudian dapat dipahami bahwa, dandanan saya dari waktu ke waktu TIDAK ADA BEDANYA. Begitu kan? Dari dulu selalu memakai model yang itu-itu saja. Walaupun ada perubahan jaman sekolah+kuliah saya cendrung berkerudung putih, ketika kerja saya cendrung berkerudung hitam.
Maklum tipikal setia, atau bisa dikatakan "susah move-on" (_ _")

nb : susah sekali nyari-nyari fotonya, jadi harap maklum.